Get Well Soon without Antibiotics

by - December 02, 2017

Cermat gunakan obat

Saya termasuk orang yang jarang sakit. Sampai saat ini saya tidak pernah opname di rumah sakit. Hasil tes kesehatan yang terakhir kali saya lakukan juga bagus, semuanya seimbang dari mulai tinggi dan berat badan, tekanan darah serta jumlah kolesterol dan gula dalam darah. Namun bukan berarti saya tidak pernah sakit ya. Saya pernah menderita demam berdarah, tapi itu dulu waktu saya berumur 3 atau 4 tahun (persisnya saya lupa). Saya juga pernah melakukan operasi pengangkatan tumor waktu kecil (lupa umur berapa). Menginjak remaja, saya pernah divonis mempunyai penyakit maag. Bisa ditebak lah ya kenapa. Karena pada saat itu makan saya tidak teratur, banyak pikiran, banyak tugas sekolah, masih banyak aktifitas juga dan jarang sekali makan makanan bergizi.
Saat-saat awal pindah domisili dari Tegal ke Semarang saya cukup sering wara-wiri ke Puskesmas dan klinik dokter karena saya sering drop. Sebenarnya keluhan-keluhan saya juga sederhana seperti batuk, pilek, muntah-muntah, pusing, panas, kerigat dingin sampai diare. Mungkin karena tubuh saya sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Hal yang paling saya ingat adalah setiap kali sakit dan memutuskan untuk memeriksakan kondisi saya, dokter di klinik atau Puskesmas pasti meresepkan antibiotik jenis Amoxicillin untuk saya. Jadi bisa dibilang saya cukup banyak mengkonsumsi antibiotik dalam rentang waktu 2016-2017. WAW! 
Sebelum saya mengikuti temu blogger kesehatan KEMENKES RI dangan tema "cermat gunakan obat" yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 21 November 2017 lalu, pengetahuan tentang antibiotik yang saya tahu hanya sebatas kalau minum antibiotics harus dihabiskan. Mana tahu saya tentang efek resistensi bakteri yang sudah mengakibatkan kematian pada lebih dari 700.000 jiwa pertahunnya. Memang konsumsi antibiotik itu bisa menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri jahat, tapi penggunaan antibiotik juga mempunyai dampak berbahaya. Penasaran gak? Baca terus ya artikel ini sampai akhir! Saya akan berbagi tentang materi yang pernah disampaikan oleh Ibu Maruyatul Qibtiyah, Ssi., SpFRS., Apt beliau adalah salah satu narasumber dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba KEMENKES RI yang hadir pada acara temu blogger tersebut.

Apa itu Antibiotik?

Antibiotik adalah obat untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Ingat ya BAKTERI. Antibiotik tidak bisa mematikan virus atau jamur. Contohnya seperti obat antibiotik yang paling umum dijumpai dan yang sering saya minum belakangan ini adalah Amoxicillin. Menurtu laman Alodokter, Amoxicillin adalah salah satu jenis antibiotik golongan penisilin yang digunakan untuk mengatasi infeksi berbagai jenis bakteri, seperti infeksi pada saluran pernapasan, saluran kemih, dan telinga. Amoxicillin hanya berfungsi untuk mengobati infeksi bakteri dan tidak bisa mengatasi infeksi yang disebabkan oleh virus, misalnya flu. Obat ini membunuh bakteri dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri. 
Perbedaan virus dan bakteri bisa dilihat pada tabel di bawah ini. 
PerbedaanBakteriVirus
UkuranUkuran bakteri umumnya lebih besar dari 1000 nm.Sementara virus ukurannya lebih kecil, yaitu antara 20-400 nm.
Dinding SelDinding sel bakteri mengandung peptidoglikan atau lipopolisakarida.Sementara virus tidak memiliki dinding sel. Fungsi dinding sel digantikan dengan selubung protein.
RibosomAda.Tidak ada.
Jumlah selSatu sel (uniseluler).Bukan sel karena tidak memiliki kelengkapan organ sel.
KehidupanTermasuk organisme hidup.Dikatakan hidup jika menempel pada organisme hidup dan dikatakan mati jika terdapat di alam.
DNA dan RNAMengambang bebas di sitoplasma.Tertutup di dalam selubung protein.
InfeksiLokal.Sistemik.
ReproduksiMampu untuk bereproduksi dengan sendirinya.Perlu sel hidup untuk bereproduksi.
Durasi penyakitUmum dan akan berlangsung lebih lama dari 10 hari.Berlangsung 2 sampai 10 hari.
DemamInfeksi bakteri dikenal dapat menyebabkan demam.Infeksi virus kadang bisa menyebabkan demam dan kadang juga tidak menyebabkan demam.
KeterlihatanKarena ukurannya cukup besar, bakteri dapat dilihat hanya dengan mikroskop cahaya.Karena ukurannya sangat kecil, virus hanya dapat dilihat oleh mikroskop elektron.
PengobatanPenyakit yang disebabkan oleh bakteri dapat diatasi dengan antibiotik.Penyakit yang disebabkan oleh virus tidak dapat diatasi dengan antibiotik.
ContohStaphylococcus aureus, Vibrio cholerae, dll.HIV, Hepatitis A virus, Rhino Virus, dll.
PenyakitKeracunan makanan, gastritis dan bisul, meningitis, pneumonia, dll.AIDS, pilek, influenza, cacar, dll.
(sumber: ebiologi(dot)com)

Sejarah Antibiotik

Alexander Fleming menemukan antibiotik pertama pada tahun 1928. Penemuan antibiotik dimulai ketika Fleming melakukan penilitian pada bakteri Stephylococcus dan saat meninggalkan labotatoriumnya Fleming lupa membersihkan cawan petri yang mengandung bakteri tersebut sehingga terkontaminasi oleh jamur Penicillium Chrysogenum. Saat kembali untuk melanjutkan penelitian Fleming melihat perkembangan bakteri menjadi terhambat akibat kontaminasi jamur itu. Penelitian pun terus dilanjutkan untuk mengetahui senyawa yang terkandung pada jamur Penicillium Chrysogenum sehingga lahirlah antibiotik pertama yang disebut Penicillin
Penelitian tentang Penicillin kemudian dilanjutkan oleh Howard Florey dan Ernest Boris Chain dengan biaya dari pemerintah Amerika dan Inggris. Mereka berhasil memurnikan Penicillin sehingga mampu digunakan untuk mengobati berbagai infeksi penyakit. Sebelumnya sekitar tahun 1940 kasus infeksi pada pasien selalu menyebabkan kematian namun setelah tahun 1940 tepatnya setelah Pinicillin bisa diproduksi kasus infeksi pada pasien dapat disembuhkan. In other side, pada saat pertamakali menemukan Penicillin Fleming sudah memperkirakan bahwa penggunaan antibiotik dengan dosis yang terlalu rendah dan durasi penggunaan yang terlalu singkat (atau terlalu lama) akan menyebabkan bakteri menjadi kebal atau resisten terhadap antibiotik. Prediksi Fleming ini terbukti, sampai dengan tahun 2013 WHO atau World Health Organization mendata kematian akibat resistensi bakteri atau AMR adalah 700.000 jiwa per tahun. Angka ini diprediksi akan mencapai 10.000.000 jiwa per tahun di tahun 2050 jika antibiotik tidak digunakan secara bijak.

Cara Kerja Antibiotik

Antibiotik dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, antibiotik tidak bisa memilah bakteri. Seperti yang kita ketahui bakteri dalam tubuh ada dua jenis; baik dan jahat. Antibiotik tidak bisa hanya membunuh bakteri jahat saja dan membiarkan bakteri baik tetap hidup berkembangbiak. Namun atibiotik akan membunuh semua bakteri yang ada di dalam tubuh kita. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan resep dokter beresiko menyebabkan bakteri menjadi kebal atau resisten. Kasus yang banyak terjadi adalah seorang pasien tidak menghabiskan antibiotik yang diresepkan dokter karena merasa kondisinya sudah membaik. Kondisi tersebut bisa terjadi karena bakteri penyebab penyakit sudah melemah, namun belum benar-benar mati. Apabila pasien menghentikan konsumsi antibiotik kemungkinan bakteri yang sudah melemah bisa memperbaiki diri dan menguat. Bakteri yang menguat kembaili akan kebal terhadap jenis antibiotik yang pernah melemahkannya. Sehingga butuh antibiotik lain yang dosisnya lebih tinggi, jika hal ini terus terjadi berulang kali bukan tidak mungkin jenis bakteri yang paling kuat terhadap antibiotik akan tercipta. Dan saya ingatkan sekali lagi, kasus resistensi bakteri ini sudah membunuh banyak jiwa per tahunnya. Kalau tidak mau menjadi jiwa-jiwa selanjutnya ya harus bijak menggunakan antibiotik.

Penyalahgunaan Antibiotik

Penyakit yang dialami manusia sebagian besar disebabkan oleh virus atau reaksi tubuh terhadap keadaan tertentu. Contoh kasus: batuk, pilek, flu dan diare. Batuk & pilek bisa terjadi karena tubuh kita bereaksi terhadap penumpukan lendir di dalam paru-paru. Diare bisa terjadi karena tubuh sedang membuang zat-zat beracun dari dalam perut. Sedangkan influenza atau yang sering disebut dengan flu sudah pasti penyebabnya adalah virus bukan bakteri.
Hal yang mengherankan justru sebagian besar kasus penyakit tersebut diresepkan antibiotik (ingat kasus saya di atas?). Hal ini mengindikasikan bahwa ternyata masih banyak yang melakukan penyalahgunaan antibiotik bahkan bukan hanya dari kalangan masyarakat umum saja tapi juga dari kalangan dokter. Padahal efek samping dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat sangat berbahaya, antara lain:
  • Toksisitas berupa pembentukan batu ginjal dan gangguan hati.
  • Dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh penggunaan obat lain.
  • Reaksi hipersensitivitas.
  • Gangguan kehamilan dan janin.
  • Gangguan pendenganran.
  • Kelainan darah, termasuk terjadinya pembekuan darah.
  • Dan yang paling berbahaya adalah resistensi bakteri.

Gunakan Antibiotik secara BIJAK untuk mencegah RESISTENSI

Pastikan penggunaan antibiotik hanya untuk kasus infeksi karena BAKTERI. Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita disebabkan oleh virus atau bakteri atau hanya karena reaksi tubuh terhadap keadaan tertentu (seperti contoh batuk, pilek dan diare di atas). Jika disebabkan oleh virus, makan cara penyembuhannya harus dengan anti-virus. Jika karena bakteri bisa diobati menggunakan antibiotik. Tapi jika hanya karena reaksi tubuh terhadap keadaan tertentu maka sistem imun tubuhlah yang akan bekerja. Apabila kekebalan tubuh baik maka penyakit akan segera sembuh.
Berikut ini adalah contoh infeksi akibat bakteri yang cocok ditangani dengan antibiotik: (menurut Alodokter(dot)com)
  • Radang paru atau pneumonia bakterialis.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Sebagian besar luka dan infeksi kulit seperti infeksi staphylococcus.
  • Infeksi menular seksual seperti gonore dan chlamydia.
  • Meningitis atau radang selaput otak.
Sedangkan berikut ini adalah contoh infeksi akibat virus yang tidak mampu ditangani oleh antibiotik:
  • Flu.
  • Bronkitis.
  • Sebagian besar jenis batuk.
  • Sebagian besar sakit atau radang tenggorokan.
  • Sebagian besar infeksi telinga.
  • Flu perut atau viral gastroenteritis.
Peran masyarakat dalam menggunakan antibiotik secara bijak adalah dengan melakukan 3 T:
  1. Tidak membeli antibiotik secara swadaya tanpa resep dokter.
  2. Tidak menyimpan sediaan antibiotik.
  3. Tidak memberikan antibiotik sisa kepada orang lain.
Well, setelah baca artikel ini masih mau mengkonsumsi antibiotik dengan tidak bijak? Tentu tidak kan? Yuk mulai sekarang kita harus cermat gunakan obat! *wink!

You May Also Like

1 comments

  1. Kalo aku biasanya konsultasi dulu sama temen yang anak Farmasi atau dokter. Jadi biar jelas. Harus minum apa, dosis berapa, dan berapa lama. Biar bakterinya nggak kebal.

    ReplyDelete