The Amazing Petung National Explore 2017, Meniilik Keindahan Alam Petungkriyono

by - August 06, 2017

Kota batik di Pekalongan
Bukan Jogja, bukan Solo
Gadis cantik jadi pujaan
Jangan bejat, jangan bodo!

Pekalongan dari dulu memang terkenal dengan julukannya sebagai kota batik. Sebuah kota yang batik tiga generasinya masih terjaga hingga sekarang meski telah ada sejak tahun 1952. Kota yang mampu membuat nilai selembar kain mori menjadi ratusan bahkan jutaan rupiah dengan karya batik di atasnya. Kota di mana lahir seniman batik yang mendapatkan apresiasi sangat tinggi karena menghadiahkan karyanya untuk ratu Elzabeth di Inggris. Kota yang memang pantas menyandang predikat sebagai kota batik karena kota ini adalah satu-satunya kota yang mempunyai banyak sumber daya batik; baik bahan untuk membuat batik maupun sumber daya manusia yang terampil memproduksi berbagai jenis batik. Bahkan di kota ini terdapat Museum Batik dan International Batik Center!
Tapi tahukah kalian kalau ternyata tidak jauh pusat kota Pekalongan terdapat sesuatu yang sangat berharga? Saking berharganya tempat ini disebut-sebut sebagai paru-paru Pulau Jawa. Ialah Petungkriyono dengan hutan Soko Kembang –nya yang mempunyai luas hingga kurang lebih tujuh ribu hektar, terletak di wilayah Kabupaten Pekalongan sekitar 23 km dari pusat kota Pekalongan. Petungkriyono dengan segala potensi dan keindahan alamnya belakangan ini dinobatkan sebagain National Nature Heritage oleh gubernur Jawa Tengah bapak Ganjar Pranowo. Kawasan ini mulai gencar dijadikan sebagai salah satu objek wisata mulai tahun 2014. Namun sepertinya keberadaan wisata di Taman Nasional Petungkriyono ini belum banyak diketahui khalayak umum.
Sebagai bentuk dukungan atas usaha masyarakat lokal di area Petungkriyono, mulai tahun 2017 ini tepatnya terhitung sejak tanggal 4-6 Agustus 2017 Pemerintah Kabupaten Pekalongan bekerjasama dengan beberapa instansi lain menggagas acara bertajuk Amazing Petung National Explore. Acara ini adalah acara perdana yang diselenggarakan untuk mengangkat potensi ‘tersembunyi’ dari Petungkriyono. Dalam misi yang mulia ini Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggaet 80 orang petualang dari seluruh Indonesia yang terdiri dari pilot drone, blogger dan fotografer untuk mengeksplor beberapa spot wisata yang potensial di wilayah Petungkriyono. 
Nah, seperti yang sudah kalian tebak saya adalah salah satu dari 80 orang yang mengikuti rangkaian acara Amazing Petung National Explore 2017 dari ketegori blogger. Apa saja sih hal unik dan menarik yang saya beserta 79 orang peserta lainnya temukan di Petungkriyono? Baca artikel ini sampai selesai ya!

Akses Manuju Petungkriyono

Untuk menuju spot wisata di Petungkriyono dari pusat kota Pekalongan kita naik bus menuju Kecamatan Doro, perjalanan ini memakan waktu sekitar 30 menit. Selanjutnya dari Kecamatan Doro menuju Petungkriyono kita masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan khusus bernama Anggun Paris singkatan dari Agkutan Gunung Pariwisata. Perjalanan dari Kecamatan Doro menuju Petungkriyono memakan waktu sekitar 45 menit. Perjalanan ini bisa juga ditempuh dengan mobil pribadi atau motor. Namun dikarenakan akses jalan yang belum mencukupi, perjalanan mengendarai sepeda motor tidak dianjurkan. 
Dari informasi yang saya dapat jasa sewa Anggun Paris sebesar lima ratus ribu rupiah. Harga tersebut merupakan jasa supir dan pemandu lokal yang akan memandu perjalanan kita selama berada di Petungkriyono. Kapasitas Anggun Paris sendiri sekitar 8-10 orang jadi kalau dihitung-hitung biaya sharing cost –nya tidak terlalu besar ya.

Beberapa Spot Wisata di Petungkriyono

Hutan Soko Kembang

Sebagian besar wilayah Petungkriyono adalah hutan, dikenal dengan nama hutan Soko Kembang yang menjadi habitat satwa liar seperti Elang Jawa dan Owa Jawa. Owa Jawa atau Hylobates moloch adalah sejenis primata anggota suku Hylobatidae. Hewan ini adalah salah satu satwa langka yang sudah terancam kepunahannya. Menurut Wikipedia, populasi Owa Jawa yang tersisa hingga saat ini tersisa hanya sekitar 1.000-2.000 ekor saja. 
Sepanang jalan menuju spot wisata kita melewati pinggiran hutan Soko Kembang yang masih sangat asri dan hijau. Jalanan yang kita lewati naik turun berliku dengan beberapa tikungan tajam ditambah dengan keadaan sebagian besar jalan rusak dan berlubang. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta acara, namun keadaan alam sekitar yang sejuk dan hijau menjadi distraksi tersendiri. Alih-alih memikirkan keadaan jalan kita justru sibuk menikmati udara sejuk dan pemandangan sekitar sambil sesekali mengajukan pertanyaan pada Mas-Mas yang memandu perjalanan kita.

Curug Sibedug




Spot pertama yang kita jumpai setelah melewati lebatnya hutan Soko Kembang adalah Curug Sibedug yang terletak tepat di samping jalan utama yang kita lewati. Curug ini menawarkan pamandangan air terjun yang lumayan untuk sekedar melepas penat sejenak sebelum kita melanjutkan perjalanan.

Jembatan Sipingit




Jembatan Sipingit adalah jembatan yang di bawahnya terdapat Kedung Sipingit yaitu salah satu spot rafting atau river tubing di Petungkriyono. Spot ini menawarkan pemandangan bebatuan alam besar dengan aliran air yang jernih dan arus yang tidak terlalu deras, pas sekali untuk sekedar duduk di bebatuan besar sambil kecehan kaki di aliran airnya. Jalanan di atas Jembatan Sipingit sendiri juga asik lho untuk berpose atau selfie. Dijamin hasil fotonya sangat Instagramable!

Air Mancur dan Curug Welo




Yang paling menyenangkan dari spot ini adalah terdapat beberap spot foto bagi para pengunjung diantaranya adalah jembatan cinta, kayu bentuk hati dan sepasang sandal jepit, rumah pohon, kursi kayu, ayunan serta beberapa gazebo. Dekat dengan lokasi pintu masuk, terdapat air mancur alami yang mengalir ke atas permukaan tanah sepanjang kurang lebih 2.5 meter. 
Jika kalian mempunyai waktu yang cukup, kalian juga bisa menikmati wisata body rafting dan river tubing yang muaranya menuju ke Kedung Sipingit. Atau berjalan menyusuri kawasan sungai bawah selama sekitar 30 menit untuk melihat Curug Welo. Sayangnya baik rafting atau Curug Welo keduanya tidak bisa kami nikmati di kesempatan ini. Mungkin kalau ada kesempatan lain untuk berkunjung ke sini, saya akan mencoba body rafting –nya!

Curug Lawe




Tidak berbeda jauh dari Curug Welo spot wisata di Curug Lawe adalah spot yang sangat Instagramable. Di area sekitar pintu masuk terdapat payung-payung yang melayang dan beberapa hammock untuk beristirahat melepas lelah. Saat tiba di lokasi ini kita hanya menikmati makan siang dan berburu oleh-oleh kopi khas Petungkriyono.
Sayangnya kita para peserta tidak melihat Curug Lawe secara langsung karena perjalanan menuju curug tersebut memakan waktu yang cukup lama yaitu satu jam yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. 

Curug Bajing




Konon katanya Curug Bajing adalah curug yang terbesar di Petungkriyono. Curug ini terletak di sebelah bukit Bajing. Bukit Bajing sendiri dulunya adalah tempat persembunyian para perapok yang suka mengambil hasil panen warga desa sekitar. Memang betul, nama Curug ini diambil dari nama bukit di sebelahnya. Bajing diambil dari kata ‘bajingan’ sebutan yang sering dilontarkan pada sekelompok perampok yang menjarah hasil panen warga desa setempat.
Pemandangan di Curug Bajing ini sangat indah karena debit air terjun yang turun lebih besar dan juga lebih tinggi dari curug-curug lain yang ada di Petungkriyono. Di sekitar Curug Bajing terdapat pendopo untuk mamamerkan karya batik tulis dan spot berupa jembatan kayu yang berbentuk hati sangat pas untuk mengambil foto dengan later belakang air terjun yang elok.

Ngomong-ngomong masalah kawasan wisata, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas tentang adat istiadat yang masih di jaga oleh masyarakat sekitar dan oleh-oleh khas kawasan wisata tersebut. Masih semangat kan bacanya? Tanggung nih, baca terus yuk sampai akhir!

Adat Malam Satu Sura

Alkisah pada jaman dahulu kalah ada siluman ular besar yang bersemayam di perbukitan sekitar daerah Petungkriyono. Setiap tahun siluman ular tersebut meminta tumbal seorang putri dari desa. Para penduduk desa yang resah dengan hal tersebut akhrinya melakukan persembahan lain dengan cara melarung kepala kerbau setiap malam satu sura, hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan warga desa dari bahaya. Sejak saat itu setiap malam satu sura tepatnya di desa Telagahendro warga desa melakukan ritual dengan menyembelih hewan seperti kerbau, sapi atau kambing untuk dijadikan sebagai sesajen. Tradisi ini dilakukan setiap tahun dan masih tetap terjaga hingga sekarang.

Kopi Owa untuk Kelestarian Owa Jawa


Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa di kawasan objek wisata Petungkriyono ini banyak sekali warga lokal yang menjajakan kopi khas Petungkriyono yang disebut dengan kopi Owa. Kenapa dinamakan kopi Owa? Tidak lain dan tidak bukan karena hasil penjualan kopi tersebut dijadikan sebagai dana konservasi satwa langka yaitu Owa Jawa. 
Kopi Owa ini setidaknya ada dua jenis; robusta dan arabica. Biji kopi diambil dari pohon kopi yang tumbuh liar di wilaya hutan Soko Kembang dan diolah secara tradisional oleh masyarakat setempat. Produksi kopi Owa tetap mempertahankan pohon-pohon alami sebagai naungan satwa liar yang ada di hutan sehingga kehadirannya berkontribusi besar terhadap usaha konservasi satwa. Saya membeli dua jenis kopi dengan ukuran kecil seharga masing-masing dua puluh ribu rupiah. Lumayan untuk oleh-oleh teman di kantor. Hehehe.

“Mas, Mbak, titip Petungkriyono untuk dunia ya...” ucap Pak Slamet, pemandu lokal kita yang seharian menemani kita menjelajahi alam elok Petungkriyono. Lewat tulisan ini saya bermaksud menyampaikan titipan beliau. Ternyata Pekalongan juga punya potensi wisata alam sekelas Petungkriyono. Berwisata ke Pekalongan tidak hanya melulu batik saja tapi juga ada Petungkriyono yang menawarkan sejuta pesonanya. Ayo berwisata ke Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dan jangan lupa tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar tempat wisata yang kalian kunjungi ya guys!

Sumber:
Wikipwdia.co.id
Brobali.com
Kompas Edisi Jumat 4 Juli 2014 dari rubrik Nusantara
Bapak Supriyadi selaku pokdarwis atau kelompok sadar wisata di Petungkriyono
Foto yang dipakai merupakan dokumentasi pribadi yang diambil saat acara The Amazing Petung National Explore 2017

You May Also Like

24 comments

  1. Wah petungkriyo bagus juga ya keindahan alamnya, cuma pasti pegal kaki ya kalau wisata alam, biasanya jauh2 tempat satu ke yang satunya ya kan 😀😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga takut pegel dong kan dari satu OW ke OW lain kita naik Anggun Paris mba Vit ;)
      PS OW singkatan dari Objek Wisata :)))

      Delete
  2. Emang perlu biaya lebih untuk bisa destinasi wisata alam apalagi kalau pake tour malah lebih mahal karena bayar supir dan tour guide juga. Aku malah lebih suka air terjun nya mba

    nurazizahkim.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya agak pricey emg tapi sebanding kok dengan apa yang kita dapatka nnti.. Kalau aku suka semuanya dong, air terjun, pohon, udara, sama masyarakatnya juga :)

      Delete
  3. Setiap pulang kampung ke Kediri selalu lewat Pekalongan, tapi kok ya tahunya cuma batik aja hahaha...Makasih cerita tentang Petungkriyono dan lainnya, Mbak. Next pulkam kayaknya harus diagendakan nginep di Pekalongan biar bisa berwisata di sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sebenarnya banyak destinasi wisata lain juga yang bisa kita explore di setiap daerah di nusantara tak terkecuali Pekalongan :)
      Masama, senang juga bisa menulis artikel tentang Petung untuk para pembaca blog ini :)

      Delete
  4. adem ya, kapan kapan main lagi lho pekalongan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada mbak Inayah nih :) mau bgt main lagi ke sana.. bisa diagendakan lagi mbak pengen cobain river tubing di Welo River :D

      Delete
  5. Ketika pertama kali membaca nama Petungkriyono, saya pikir semacam patung gitu. Ternyata tempat wisata alam. Bagus juga tempatnya, ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha .. Petungkriyono ini nama salah satu Kecamatan di Kabupaten Pekalongan mbak, unik juga ya namanya :D
      Tempat wisatanya bagus banget mbak dan bikin susah move on *eh!

      Delete
  6. Keren nih petungkriyono, banyak air terjunnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih mas, emg keren bgt.. udara di sana juga sejuk pas banget buat ngademin pikiran yang ruwet :)

      Delete
  7. Petungkriyono bikin betah banget ya. Sebenernya pengen banget berendam di sungai yang pas kita berhenti di Jembatan Sipingit itu. Airnya sejuk banget. Sayang cuma kecebur doang, nggak bisa mandi-mandi gitu karena udah kudu jalan ke destinasi berikutnya. Next, kudu minta waktu buat mandi-mandi kucing di sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuu! Next minta river tubing juga :D

      Delete
  8. Bagus banget spot2nya Mbak. Jadi pingin ke sana nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kalau udah kesana bawaannya susah move on T.T

      Delete
  9. asyik banget yaa...foto2nya juga bagus2 nih..jadi pengen kesana deh

    ReplyDelete
  10. Masih blm bisa move on yaa, klo baca2 cerita ttg Petungkriyono. Foto2nya mayan lengkap yaa. Aku malah ngga foto di setiap spot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaaa ini salah satu korban yang gagal move on :p

      Delete
  11. Keren banget mbak spot wisatanya, benaran alami. Pengenlah kesana. Ternyata tidak cuma batiknya yang indah, alamnya juga sangat luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba betul.. Pekalongan itu emang ehmmm sesuatu banget. :D

      Delete
  12. Duuuh mupeng ke curug dan sungainya, seger ya main air di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seger banget, apalagi hawanya di sana juga mendukung :)

      Delete