Melihat Langsung Proses Pembuatan Batik di Bumi Legenda Batik Nusantara

by - August 09, 2017

Kota batik di Pekalongan, namun kalo bumi legenda batik ya di Kabupaten Pekalongan. Jangan tertukar yah antara Kota dan Kabupaten Pekalongan. Memang benar sekali bahwa sebagian besar batik-batik Nusantara berasal dari Pekalongan. Sejak dulu kala persebaran batik, di daerah Pekalongan merupakan yang paling pesat perkembangannya. Hingga sekarang suplai batik dan bahan baku membuat batik terbesar di Indonesia tetap berasal dari Pekalongan. Tak tanggung-tanggung pengenalan batik ke kancah International pun dimulai oleh Pekalongan. Yuk kita melihat sejarah batik Nusantara dulu.

Sejarah Batik

Sejarah Legenda Batik Indonesia
Kebudayaan batik dapat ditemukan sejak dari zaman kerjaan Majapahit. Pada awalnya batik ini merupakan pakaian yang hanya digunakan oleh keluarga kerajaan saja. Seperti tanda kehormatan para bangsawan. Hal ini seperti di kerajaan-kerajaan lain misalnya Hanbok sutera yang dikenakan oleh putri bangsawan Dinasty Joseon (sekarang Korea). Balik lagi ke batik, seiring perkembangan zaman rakyat terdekat dengan keluarga kerajaan mulai menggunakan batik. Selanjutanya karena kebutuhan batik mulai besar, banyak para wanita menjadi pengrajin batik untuk mengisi waktu di rumahnya.
Batik mulai digunakan oleh masyarakat luas khususnya suku Jawa sejak akhir abad ke 18 atau awal abad ke 19. Saat itu semua batik berjenis batik tulis dengan menggunakan pewarna alami seperti pohon mengkudu, tinggi dan nila. Untuk batik cap, baru mulai dikenal sekitar akhir abad ke 19. Persebaran batik terjadi setelah perang Pangeran Diponegoro. Kerajinan batik dibawa oleh para pengikutnya yang terpaksa berpencar karena terdesak oleh pasukan Belanda. Para pengikut Pangeran Diponegoro menyebarkan batik di berbagai daerah seperti Banyumas, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Serta ke arah Timur ke arah Solo, Yogyakarta, Gresik, Surabaya, dan Madura. Dari semua daerah berkembangnya batik, hanya Pekalongan yang mampu terus mengembangkan batik hingga layak menyandang gelar sebagai bumi legenda batik nusantara.

Batik Pesisir – Failasuf

Salah satu dari sekian banyak pengrajin batik di Kabupaten Pekalongan adalah Batik Pesisir Failasuf yang dipimpin oleh Bapak H. Failasuf. Bapak Failasuf ini bukan hanya melestarikan budaya batik, namun juga memperkenalkan batik Pekalongan hingga manca negara. Tidak cukup sampai di situ, beliau juga mengedukasi masyarakat lokal hingga International untuk mengenal proses pembuatan batik.
Tempat Pembuatan Batik Pesisir
Pranggok Pesisir
Bapak H. Failasuf mendirikan Pendopo Batik Pesisir yang berdampingan dengan Pranggok Pesisir sebagai tempat produksi batik. Masyarakat bisa mengenal proses pembuatan batik dari kain mori yang masih putih polos hingga menjadi maha karya seni batik. Saya mengamati proses pembuatan batik yang tahap-tahapnya adalah :
Nyorek, atau membuat pola pada kain mori yang masih polos. Nyorek menggunakan pensil mengikuti pola dari batik yang sudah ada sebelumnya. Atau biasanya menggunakan karbon untuk mendapatkan hasil pola yang presisi. Kemudian dipertebal kembali menggunakan pensil.
Nyorek / Membuat Pola
Mbatik
mewarnai
Tingi dan Secang, Pewarna Alami
Pola yang sudah dibuat kemudian dilapisi dengan malam batik, inilah yang disebut dengan istilah mbatik. Ada banyak jenis-jenis mbatik berdasarkan pola corak yang ditorehkan yaitu nyecek dan truntum. Sebelum diberi warna dasar atau sering disebut medel, bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar akan dilapisi lagi. Proses ini dinamakan dengan nembok.
Proses pembuatan batik masih banyak lagi seperti mewarnai pola-pola hingga yang terahir adalah nglorod. Nglorod merupakan proses mengelupaskan semua malam yang masih menempel pada kain. Setiap batik yang dibuat membutuhkan waktu hingga 3 bulan lamanya. Setiap tahap dilakukan oleh orang-orang yang berbeda.
Karya terbaru Bapak H. Failasuf adalah motif batik Petungkriyono. Motif ini terinspirasi dari indahnya alam Petungkriyono yang disertai keramahan para warga yang tinggal di sana. Bapak H. Failasuf mendesain 3 buah motif Petungkriyono. Keindahan hutan, curug, hingga aneka fauna yang hidup di alam Petungkriyono digambarkan dalam 3 buah motif batik tersebut.

Batik Motif Petungkriyono
Acara kunjungan ke Pendopo Batik Pesisir dihadiri juga oleh Bupati Pekalongan Bapak Asip Kholbihi. Beliau melaunching motif batik Petungkriyono, sekaligus menyampaikan hendak membeli batik tersebut setelah selesai dibuat. Oh ya, saat ini batik masih berupa pola batik ya, belum diberi warna. Menurut penuturan Bapak Failasuf, masih membutuhkan waktu dua bulan untuk menyelesaikannya.
Kunjungan diakhiri pertunjukan fashion show yang menampilkan busana yang berbahan Batik Pesisir Failasuf.
Bpk. H. Failasuf & Bupati Pekalongan
Fashion Show Batik Pesisir
Batik merupakan warisan leluhur yang keindahannya mampu menarik perhatian dunia. Sudah sepantasnya kita berbangga dan sekaligus menjaga kebudayaan ini. Saya pribadi memulai dari diri sendiri dengan menggunakan baju batik setiap hari Jum'at. Bagaimana dengan kalian?

You May Also Like

19 comments

  1. Menakjubkan yah kalau liat proses membatik asli yg begitu detil... Kayak gitu kok ada org beli batik asli masiiihhh aja nawar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe bener banget klo mau beli batik asli haram hukumnya ditawar

      Delete
  2. Makanya wajar banget kalau harga batik itu mahal. Prosesnya juga gak mudah. Ada harga ada kualitas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari bahan, proses, hasil dan ketahanan batik tulis semuanya top markotop :) makanya harganya juga mahal.

      Delete
  3. Ternyata pekalongan sangat kental dengan batik nya yang khas mulai dari batik tulis, batik print, dll. Emang harga menentukan kualitas nya mba.

    nurazizahim.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, finally price can tell its quality yaaa :D

      Delete
  4. Batik memang kain khas Indonesia, dan berbagai daerah punya ciri khasnya, batik yang mahal biasanya kain dasar dan polanya lebih rumit, sesuai ada harga ada rupa ya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mba Vita, ada harga ada rupa. Batik tulis juga kualitasnya lebih oke dan lebih tahan lama pastiya...

      Delete
  5. Wah ternyata beda ya, kota batik sama bumi legenda. Batiknya cantik semua, pengen kesonoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda sebutan saja tapi semuanya me-refer ke Pekalongan :) Kota dan Kabupaten kan beda administrasinya jd mungkin pemerintah daerahnya ingin menonjolkan ciri khas masing-masing, IMO.

      Delete
  6. kepencet :)....wah seru ya mbak jalan2 sambil dapat ilmu...pingin juga lihat dari langsung pembuatan batik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya mba seru banget :) Minggu ini ada pekan batik di Pekalongan boleh lah jalan2 ke sana ...

      Delete
  7. Aku malah fokus sama gambar petungkriyo nya Mbak. Pingin gambar deh. Bagus banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, itu gambar yang baru setengah jadi aja udah bagus banget apalagi kalo ntr pas udah jadi sempurna yaaa... duh jadi pengen balik lagi buat lihat batiknya yang sudah jadi :)

      Delete
  8. Lengkap banget Ujhaa...dan tetep disambungin sama hal2 berbau Korea...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaaa ya kan itu analogi aja mba, di sini kita punya batik di negara lain juga punya baju khas nya sendiri :)

      Delete
  9. Seru ya mba.. Bisa belajar langsung ke pengrajin batik lokal.
    Kalau ke cerbon bisa mampir batik trusmi cirebon sbg pusat batik dicirebon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas seru banget... pas masuk area pengrajin batik hawanya beda berasa sakral banget :)
      Waaah boleh tuh ntar kapan-kapan main ke Cirebon.

      Delete